BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Anggrek merupakan tanaman hias bunga yang populer.
Bunga anggrek ini mempunyai penggemar dari tingkat lokal hingga tingkat
internasional. Anggrek juga mempunyai pemasaran yang cukup luas dan beragam,
baik dari pasar nasional maupun internasional, sehingga bunga anggrek dapat
menjadi sumber devisa potensial bagi negara di samping dapat menjadi sumber
penghasilan bagi petani dan pendapatan asli daerah. Namun pada kenyataannya,
pengembangan usaha anggrek di Indonesia belum semaju negara lain.
Tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya
komoditas produksi bunga Tanah Air berlimpah ruah. Berdiri di hamparan tanah
yang subur, jadi bukti Ibu Pertiwi ini memiliki keragaman hayati. Anggrek jadi
contoh kecil dari berjuta-juta kekayaan floranya. Beribu-ribu spesies anggrek
yang ada di Indonesia sudah lebih dari cukup untuk dijadikan modal negeri ini
sebagai produsen anggrek dunia.
Anggrek memiliki nama latin Orchidaceae, yaitu merupakan satu suku
tumbuhan berbunga yang memiki anggota atau jenis terbanyak. Jenis-jenisnya
tersebar luas dari mulai wilayah tropika basah sampai lokasi sirkumpolar, walau
beberapa besar anggotanya ditemukan di wilayah tropika. Umumnya anggota suku
ini hidup sebagai epifit, terlebih yang datang dari wilayah tropika. Anggrek di
wilayah beriklim sedang umumnya hidup di tanah serta membentuk umbi sebagai
langkah beradaptasi pada musim dingin. Organ-organnya yang condong tidak tipis
serta berdaging ( sukulen ) membuatnya tahan hadapi tekanan ketersediaan air.
Anggrek epifit bisa hidup dari embun serta udara lembap. Orchidaceae merupakan
sumber inspirasi dari penamaan kereta api argo anggrek, kereta api kelas
eksekutif yang melayani perjalanan surabaya pasar turi-gambir.
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah di uraikan diatas, maka dapat di identifikasikan masalah sebagai berikut
: Apakah pengembangan usaha tanaman hias bungan Anggrek dapat memberikan
prospek yang cerah di tinjau dari aspek finansial.
1.3 Tujuan
Penelitian
Penelitian ini di lakukan dengan
tujuan untuk mengetahui bagaimana Prospek Pengembangan Usaha Tanaman Hias Bunga
Anggrek yang di usahakan oleh pemilik di tinjau dari segi Finansial.
1.4
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bermanfaat bagi
penulis dalam mengaplikasikan ilmu yang telah di telah di dapat juga sebagai
bahan informasi dan juga untuk melengkapi tugas Akhir Semester.
1.5
Tinjauan Pustaka
1.5.1
pengenalan Bunga Anggrek
Anggrek pada umumnya diperdagangkan dalam tiga
bentuk komoditas, yaitu bibit anggrek, tanaman anggrek dewasa (pot plant)
dan bunga anggrek potong. Anggrek adalah salah satu tanaman sangat potensial
untuk dikembangkan. Seiring dengan perkembangan tanaman hias sekarang ini,
anggrek masih memiliki pangsa pasar tersendiri bagi kalangan pecinta maupun
kolektor anggrek, meskipun banyak bermunculan jenis-jenis tanaman hias baru
yang menjadi tren dan mendominasi dalam pangsa pasar tanaman hias. Sesuai
dengan Sutiyoso (2003),
1.5.2 Klasifikasi Bunga Anggrek
Dalam taksonomi tumbuhan, kedudukan bunga anggrek di
klasifikasikan sebagai berikut:
|
Kerajaan:
|
Plantae
|
|
Divisi:
|
Magnoliophyta
|
|
Kelas:
|
Liliopsida
|
|
Ordo:
|
Asparagales
|
|
Famili:
|
Orchidaceae
Juss. |
1.5.3 Varietas Bunga
Anggrek
Varietas
Bunga Anggrek memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut :
a.
Batang anggrek beruas-ruas. Anggrek yang hidup di tanah
(anggrek tanah) batangnya pendek serta condong mirip umbi. Sesaat itu, anggrek
epifit batangnya tumbuh baik, kerapkali menebal serta terlindungi susunan lilin
untuk menghindar penguapan terlalu berlebih. Perkembangan batang bisa berbentuk
memanjang (monopodial) atau melebar (simpodial), bergantung genusnya.
b.
Daun anggrek umumnya oval memanjang dengan tulang daun
memanjang juga, khas daun monokotil. Daun bisa juga menebal serta berperan
sebagai penyimpan air.
1.5.4 Tinjauan
Agribisnis
Menurut
Krisna Mukti (2001), Agribisnis adalah suatu system usahan yang merupakan
panduan lengkap dari beberapa subsistem yang paling ,berkaitan. Agribisnis di
bagi atas tiga sektor yang paling tergantung yaitu: Sektor masukan (input),
sektor produksi (farm), dan sektor keluar (Output).
1.5.5 Subsistem
Penyediaan Sarana Produksi (Agroinput)
Menurut Suharto (1992) Agroinput
merupakan segala sarana produksi yang di gunakan dalam usaha.
1.5.6 Subsistem
Usahatani (Agroproduksi)
Menurut Bugaran Seragih (2008)
subsistem produksi merupakan kegiatan pengembangan yang menggunakan sarana
produksi usaha untuk menghasilkan produksi primer. Kegiatan- kegiatan yang di
lakukan meliputi Penyiapan lahan, penanaman, pangendalian hama penyakit,
samapai pasca panen dan penangananya.
1.5.7 Subsistim
Pengolahan hasil (Agroindustri)
Dalam usaha kegiatan Industri
pengolahan, tidak terlepas dari pengembangan Agroindustri. Daya serap Industri
pengolahan yang memiliki daya saing yang cukup tinggi terhadap produk sejenis
di pasar Internasional, untuk Industri perlu memiliki keunggulan- keunggulan
Koperatif usahatani dan tataniaga.
1.5.8 Subsistem
Pemasaran (Agroniaga)
Menurut Soekartawi (1989)
Subsistim pemasaran hasil usaha (produk primer) dan Agroindustri untuk di
pasarkan di daerah penelitian maupun di luar daerah penelitian.
1.5.9 Subsistem
Penunjang (Agropenunjang)
Kartasapoetra (1994), komponen
layanan pendukunnya yaitu berupa
fasilitas yang dapat mendukung berlangsungnya suatu perubahan. Kelancaran
layanan pendukung dengan sendirinya akan mempercepat berlangsungnya
perubahan-perubahan positif.
1.1.10 Peran Agribisnis
Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional
Kegiatan ekonomi yang berbasis pada
pendayagunaan keanekaragaman alam dan social budaya telah lama berkembang di
Indonesia, yaitu di kenal dengan pertanian. Semakin berkembang masyarakat
tingkat komersialisasi kegiatan tersebut semakin berkembang. Baik sebelum
produk utama dari kegiatan ekonomi berbasis Sumberdaya hayati adalah produk
primer. Semakin lamanya berkembang menjadi produk yang di perdagangkan .
(Krisna Mukti,2001) .






0 komentar:
Posting Komentar